Sejarah Besuki Situbondo: Kota Kecil yang Pernah Jadi Ibu Kota Karesidenan Jawa Timur

 

Alun-alun Besuki Situbondo peninggalan Karesidenan Besuki zaman kolonial Belanda

Banyak orang yang lewat Besuki hanya menganggapnya sebagai kota kecamatan biasa di jalur Pantura. Padahal, kalau kita lihat sejarahnya, Besuki adalah salah satu kota paling bersejarah di Jawa Timur. Bahkan, Besuki pernah menjadi pusat pemerintahan yang sangat penting di masa kolonial Belanda.

Dulu, wilayah Jawa Timur bagian timur dibagi menjadi beberapa Karesidenan, dan salah satunya adalah Karesidenan Besuki. Ibu kotanya bukan di Jember atau Banyuwangi, tapi di Besuki sendiri. Inilah mengapa sampai sekarang banyak peninggalan Belanda di Besuki yang masih bisa kita lihat.

Awal Mula Besuki Jadi Pusat Pemerintahan

Pada tahun 1818, pemerintah kolonial Belanda menetapkan Besuki sebagai pusat Karesidenan Besuki. Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi. Alasan Belanda memilih Besuki adalah karena lokasinya yang strategis di tepi pantai dan dekat dengan Pelabuhan Panarukan yang saat itu menjadi pelabuhan utama untuk ekspor gula dan kopi.

Di Alun-alun Besuki yang sekarang, dulu berdiri Kantor Residen, yaitu rumah dinas pejabat tertinggi Belanda untuk wilayah Besuki. Bangunannya sangat megah dengan gaya arsitektur kolonial. Meskipun sekarang sudah tidak ada, area alun-alun yang luas itu adalah bukti betapa pentingnya Besuki di masa lalu.

Pabrik Gula dan Perkebunan yang Membuat Besuki Kaya

Kejayaan Besuki tidak lepas dari Pabrik Gula (PG) Besuki, PG Panji, dan PG Olean yang ada di sekitarnya. Pada tahun 1800-an sampai 1920-an, gula dari Besuki menjadi komoditas paling mahal di dunia dan diekspor ke Eropa. Inilah yang membuat banyak orang Eropa tinggal di Besuki.

Selain gula, ada juga perkebunan kopi dan tembakau yang sangat luas. Sampai sekarang, kalau kamu jalan ke arah selatan Besuki menuju Bondowoso, kamu masih akan melihat sisa-sisa rel lori tebu peninggalan Belanda.

Sejarah Besuki - Alun-alun dan Bekas Kantor Residen Besuki

Kenapa Ibu Kota Pindah dari Besuki?

Pada tahun 1928, pusat Karesidenan Besuki dipindahkan dari Besuki ke Jember. Alasannya karena Jember lebih berkembang dengan adanya kereta api dan jumlah penduduk yang lebih banyak. Sejak saat itu, Besuki perlahan berubah menjadi kota kecamatan seperti sekarang.

Namun, jejak kejayaannya masih ada. Kamu bisa melihatnya di beberapa tempat:

  1. Alun-alun Besuki yang sangat luas, bahkan lebih luas dari alun-alun kabupaten Situbondo.
  2. Bangunan SD Besuki 1 yang merupakan bekas sekolah Belanda.
  3. Jembatan Besuki dan struktur jembatan lori tebu di beberapa desa.
  4. Makam Belanda di sekitar area Besuki.

Besuki Sekarang

Sekarang, Besuki adalah bagian dari Kabupaten Situbondo dan menjadi penghubung utama jalur Pantura. Meskipun tidak lagi menjadi ibu kota Karesidenan, Besuki tetap memiliki peran penting sebagai kota sejarah dan kota kuliner.

Bagi warga Situbondo, Besuki adalah bukti bahwa kota kecil juga bisa memiliki sejarah besar. Jika kamu berkunjung ke farha.id, jangan hanya lewat, sempatkan untuk melihat Alun-alun Besuki dan membayangkan bagaimana ramainya kota ini 100 tahun yang lalu sebagai pusat pemerintahan kolonial.

Itulah sedikit sejarah Besuki yang wajib kita ketahui sebagai warga lokal. Jangan sampai sejarah kota kita sendiri hilang begitu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Besuki: Rahasia Kota Kecil di Situbondo yang Pernah Jadi Ibu Kota Karesidenan Seluas Tapal Kuda

Mengenal Kawasan Tapal Kuda: Kenapa Disebut Tapal Kuda dan Hubungannya dengan Besuki

5 Wisata Tersembunyi di Besuki Situbondo yang Wajib Kamu Kunjungi (Bikin Betah!)